Jakarta – Wakil Ketua DPD RI Laode Ida menilai jika harus ada dua PKB, maka yang akan unggul adalah PKB Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) dibanding Muhaimin Iskandar. Bukan saja karena Yenny merupakan putri pendiri dan Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid, melainkan secara kecerdasan juga Yenny lebih unggul.

“Untuk 2014 kalau harus ada dua PKB maka Yenny akan jauh lebih unggul dibanding Muhaimin. Sebab, selain sudah terkooptasi oleh kekuasaan saat ini, kekuasaan yang notabene didukung oleh Muhaimin sama sekali tidak berpihak kepada rakyat,” kata Laode, dalam sarasehan Pra Muktamar III PKB Gus Dur di kantor DPP PKB Kalibata, Jakarta, Kamis (16/12).

Menurutnya, konflik PKB selama ini berpengaruh ke akar rumpur, warga NU paling bawah. Namun, jika warga NU diminta untuk memilih dua PKB, maka mereka akan memilih PKB Gus Dur. Sebab, pemilih dan pengikut Gus Dur ini memiliki militansi yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh Muhaimin maupun parpol yang lain.

Apalagi untuk pemilu 2014, menurut dia, PKB Muhaimin sudah terkooptasi oleh kekuasaan sekarang ini. “Jadi, kekuatan Gus Dur yang akan tampil dalam pemilu 2014 nanti. Untuk itu Yenny harus konsisten memperjuangkan visi dan misi Gus Dur sebagai simbol tokoh berkarakter yang pro rakyat untuk kepentingan bangsa dan Negara ini,” papar Laode.

(new)

Sumber Berita: http://www.primaironline.com, 16 Desember 2010 | 18:08 | Politik

Jakarta, NU Online
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Gus Dur akan menyelenggarakan Muktamar III PKB pada tanggal 26-27 Desember 2010 di Surabaya. Penyelenggaraan Muktamar III PKB  ini berlandaskan pada dua pertimbangan, yaitu sebagai tertib organisasi dan amanat Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid sebelum wafat bahwa Muktamar PKB harus dilaksanakan pada tahun 2010 ini.

Demikian keterangan pers yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana Muktamar III PKB Gus Dur, H Imron Rosyadi Hamid dan Sekretaris Pantia Priyo Sambadha pada wartawan di Kantor DPP PKB Kalibata, Jakarta, Kamis (16/12).

Menurut Imron, secara tertib organisasi, status kepengurusan yang ditetapkan oleh Muktamar Luar Biasa (MLB) adalah melanjutkan periodisasi kepengurusan Muktamar sebelumnya. Hal ini berdasarkan pada jurisprudensi, dimana kepengurusan yang ditetapkan MLB PKB yang dilaksanakan di Yogyakarta tahun 2002 paripurna pada Tahun 2005.

Artinya, kepengurusan hasil MLB Yogyakarta pada tahun 2002 ‘hanyalah’ melanjutkan periode kepengurusan yang ditetapkan pada Muktamar I PKB di Surabaya pada tahun 2000.  Demikian pula halnya dengan kepengurusan yang ditetapkan berdasarkan MLB PKB Parung maupun MLB PKB Ancol pada tahun 2008 seharusnya paripurna pada tahun 2010.

Hal itu karena sebagai kelanjutan dari periodisasi kepengurusan yang ditetapkan oleh Muktamar II PKB yang dilaksanakan di Semarang pada tahun 2005.  Dengan demikian sudah seharusnya bahwa pada Tahun 2010 ini diselenggarakan Muktamar III PKB. Itu sebagaimana diamanatkan dalam AD/ART PKB Pasal 36 bahwa “Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi partai yang berfungsi sebagai representasi dari pemegang kedaulatan partai dan diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali.”

Dan, kedua, baik saat sebelum maupun sesudah wafatnya Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berbagai elemen dalam PKB sudah berusaha menyatukan (Islah) PKB agar bersatu dan kompak sebagai satu kekuatan politik Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu upaya itu adalah diselenggarakannya Muktamar sebagai media islah untuk mengembalikan ruh perjuangan Partai Kebangkita Bangsa tersebut, akan tetapi pelaksanaan Muktamar gagal terwujud.

Sementara Gus Dur sendiri dalam amanatnya pada Rapat Pleno DPP PKB yang dipimpin langsung oleh beliau pada tanggal 12 dan 24 November 2009 di DPP PKB Kalibata, menegaskan dan menetapkan bahwa Muktamar III PKB diselenggarakan pada tahun 2010. Karena itu wasiat Gus Dur tersebut harus diwujudkan. Sehingga Muktamar III ini merupakan jawaban konkret sekaligus sebagai perjuangan nyata untuk mengembalikan ruh perjuangan PKB dimaksud.

Berdasarkan dua argumentasi mendasar di atas, Panitia Nasional Muktamar III PKB mengundang seluruh DPW dan DPC PKB di seluruh Indonesia untuk mengikuti Muktamar III PKB yang akan digelar pada Ahd-Senin, 26-27 Desember 2010 di GOR Cahaya Lestari Surabaya, Jawa Timur, yang juga akan dihadiri para alim ulama NU, pendiri PKB, tokoh masyarakat dan puluhan ribu massa PKB Gus Dur.(amf)

 

Sumber berita: NUOnline,  Kamis, 16 Desember 2010 20:03

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Yenny Wahid yang biasa menyebut diri sebagai PKB Gus Dur akan menggelar muktamar di Surabaya 26-27 Desember 2010.

“Ini muktamar ketiga PKB Gus Dur,” kata Moeslim Abdurrahman, salah satu ketua Dewan Syura, saat acara diskusi pramuktamar di kantor DPP PKB Gus Dur di Kalibata, Jakarta, Kamis.

Selain Moeslim, pembicara yang tampil adalah Wakil Ketua DPD Laode Ida, Sekjen PBNU Iqbal Sullam, dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti dengan moderator Adhie M Massardi.

Menurut Moeslim, penyelenggaraan muktamar ketiga PKB di tahun 2010 merupakan wasiat dari almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur berwasiat agar di tahun ini digelar muktamar ketiga agar sejarah periodisasi terjaga, ada modal untuk islah,” katanya.

Sesuai Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga PKB, muktamar digelar lima tahun sekali. Sejak berdiri 1998, muktamar telah dua kali digelar, yakni di Surabaya tahun 2000 dan di Semarang tahun 2005.

Selain muktamar “reguler”, PKB juga telah menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB) di Yogyakarta tahun 2002 serta MLB yang digelar kubu Gus Dur di Parung dan kubu Muhaimin Iskandar di Ancol tahun 2008.

Menurut Moeslim, muktamar ketiga PKB digelar PKB Gus Dur untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa “rumah politik” yang didirikan oleh Gus Dur untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan kerakyatan masih ada.

“Muktamar secara simbolik menunjukkan “wajah” Gus Dur itu masih ada. Kita ingin menjaga rumah politik itu tetap ada,” katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, orang-orang yang masih memiliki idealisme dan visi yang sama memiliki tempat untuk kembali.
“Kalau Laode sudah selesai dari DPD dan Ray Rangkuti mau pulang, rumah ini masih ada,” katanya.

sumber berita: Republika OnLine » Breaking News » Nasional

Kamis, 16 Desember 2010, 20:11 WIB

Sekira dua tahun ini, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dilanda problem dan konflik serius. Sejak detik pemberhentiannya dari kepemimpinan Dewan Tanfidz pada April 2008, Muhaimin Iskandar (MI) terus melemparkan protes ketidakterimaan, ketidaklegowoan, bahkan membawa kasus ini di meja pengadilan. Media di tanah air merekam bagaimana mereka pelan-pelan namun secara pasti mulai menggusur eksistensi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi kepemimpinan Dewan Syura DPP-PKB.

MLB Parung sebagai jalur permusyawaratan tertinggi dalam memberhentikan MI secara tetap (permanen)pun tak mampu menundukkan keangkuhannya untuk tetap melawan Gus Dur. Bahkan dirinya menggelar MLB tandingan, MLB Ancol. Meski tak mendapatkan restu Gus Dur, bahkan tak ada person satupun dari pengurus Dewan Syura dan sebagian besar Dewan Tanfidz yang hadir di MLB Ancol, namun duet segelintir Muhaimin dkk nyatanya telah berhasil merebut bendera PKB dari tangan Gus Dur. Pemerintah memberikan jalan mulus kepada MI. Akhirnya, muncullah SK Menkumham tahun 2009—yang diketahui publik justru belakangan, pasca wafatnya Gus Dur—yang didalamnya muncul struktur pengurus yang sama sekali baru, bahkan nama Gus Dur sebagai Ketua Umum Dewan Syura yang sahpun tak lagi hadir di sana. MI merebut PKB? MI menghianati Gus Dur? MI merebut PKB dari tangan ulama? Ya, tampaknya, pertanyaan-pertanyaan itu bisa mewakili kekesalan warga PKB kepada MI. Kekesalan warga PKB dan para pendukung Gus Dur memuncak saat detik-detik wafatnya Gus Dur, MI belum juga minta maaf atas kesalahannya merebut gerbong organisasi dari jalur yang sah. MI keukeuh merasa benar.

Inilah sebuah skenario sistemik yang dilemparkan MI, dengan backing pemerintah untuk merusak PKB serta menyingkirkan Gus Dur dari panggung politik.

Gus Dur memang kemudian terlempar dari PKB, namun sejarah kemudin membuktikan siapa sebenarnya yang patuh terhadap mekanisme organisasi. Siapa yang benar-benar membela yang benar.

Kepergian Gus Dur di akhir tahun 2009 lalu bukan berarti hilangnya semangat kita untuk membiarkan begitu saja kedzoliman MI dkk. terus berjalan. Justru kita harus meluruskan rel yang telah dibelokkan MI hingga partai sekelas PKB harus ‘parkir’ menengadahkan tangan memelas minta jabatan ke pemerintah. Kita hanya ingin berjalan pada rel dan trek yang benar. Sekaligus tentunya yang tak kalah penting, mengembalikan marwah (kehormatan) Gus Dur yang telah diinjak-injak oleh ‘peluru-peluru politik’ MI sponsor pemerintah.

Sampai disini, kami menegaskan bahwa Muktamar ke III PKB adalah sebuah keniscayaan politik. Disamping tertib periodisasi, juga yang lebih penting adalah mengembalikan kehormatan KH. Abdurrahman Wahid.

Selamat menikmati Blog ini, semoga bermanfaat, Hidup Gus Dur!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.